Sabtu, 11 Juni 2011

antara kesetiaan, kebaikan dan kebodohan part III

Part3
dan setelah itu aku mulai menjadi seorang yang arogan dan tak pernah menghargai perasaan orang lain. hal itu aku lakukan karena aku berpikir SETIAP ORANG SAMA! MEREKA TAK PUNYA HATI! dan aku pun akhirnya memposisikan diriku sebagai mereka. ya aku sempat berpikir sudah tak ada orang baik didunia ini termasuk diriku. lalu dalam perjalanan, aku bertemu seseorang bernama SYIFA FAUZIAH. saat itu aku masih menjadi diriku yang dulu. namun seorang sahabatku mengatakan, "tolong jangan disia2kan dia, karena dia adalah orang baik" aku mungkin ragu dengan kata2nya tapi akhirnya aku harus percaya pada hatiku, ya aku meninggalkan seorang yang sedang bersamaku saat itu yang gak lain adalah teman sekolahnya. aku mencoba menerima keadaanya, ya tetap dengan bantuan dan masukan sahabatku untuk tidak menghianati perasaannya. dan dalam hati aku berkata. 'baiklah, mungkin ini sudah saatnya aku kembali. dalam 3bulan perjalanan aku mencoba menata hati untuk bisa menerima perasaannya, ya balik lagi aku mencoba menghormati dan menghargai perasaannya, namun saat menjelang bulan ke empat, dia membuatku yakin aku harus berubah, saat itu ayahnya mengatakan padaku, ' ogi, babeh cuman mau ogy jawab, kamu cinta ma syfa?
dalam diam aku menjawab,,' saya mencoba be"...
lalu ayahnya melanjutkan,' babe mau kamu nikah ma syfa, walaupun babeh tau kamu masih berstatus mahasiswa,,'
aku kaget, aku gak nyangka aku akan dihadapkan pada pernyataan yang sebelumnya gak pernah aku bayangkan.
lalu dia melanjutkan, ' babe bakal nyiapin semua, babe cuma mau ga ada fitnah dari orang ttg anak babe, babe guru ngaji, kiai, ustadz,, babe ngerasa punya tanggung jawab moral. setelah ijab kabul terserah elo mau balik ke orang tua lo, lo mau tinggal disini ma babe, terserah.'

aku berpikir panjang tentang keputusanku. aku tak lagi percaya adanya cinta, tapi akhirnya aku putuskan untuk menjalaninya dlu sampai aku benar2 yakin.

tapi apa yang terjadi setelah itu?
memasuki bulan ke5 aku mulai meyakini bahwa aku bisa menerimanya, dan memasuki bulan ke 6..

aku mengantarnya untuk interview pekerjaan, dan dia pun diterima. ya sempat aku berpikir Tuhan memberikanku jalan atas sebuah kepercayaan. selama sebulan aku menjalani susahnya berkorban untuk bisa menemaninya melewati hidup yang sesungguhnya, namun begitu saja dikhianati oleh sebuah kata yang sama.."MANTAN"...dia meninggalkan aku didepan orang tuanya dan semua keluarganya yang telah begitu percaya.

dan kudapati lagi sebuah kekecewaan yang berujung akan kehancuran diriku yang kesekian kalinya. aku hanya bisa berbicara dengan TUHAN, apakah kepercayaan begitu mahal sampai aku harus merasakan siksaan yang tak kunjung henti?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar