teringat saat aku berumur sekitar 5 sampai 10 tahun. umur yang sangat muda untuk bisa merasakan keruntuhan hati. saat usiaku yang masih terlalu muda untuk bisa merasakan sebuah penghianatan. jujur saat itu aku masih terlalu naif untuk dapat merasakan sebuah penghianatan.
IBUKU...aku mencintainya,, hingga saat aku menyadari ia telah menghianati hatiku yang waktu itu masih terlalu suci untuk dikhianati. hingga aku mendapati kesadaran bahwa aku masih mempunyai hati yang suci saat ibuku kembali sadar akan apa yang telah ia lakukan kepada ku.
saat aku mulai memiliki cinta dengan lawan jenis. ya, entah kenapa aku bisa menyebut itu cinta. karena sebuah cinta yang hanya datang dari hati yang mengatakan padaku inilah cinta. dan aku pun dapat menyebut itulah cinta yang pertama kali aku rasakan dan cukup membuat aku bahagia.
sungguh cinta memberikanku pelajaran besar. adanya rasa sakit, adanya kesetiaan, adanya pengorbanan, adanya pengarifan, adanya pemaafan, adanya komitmen, adanya kekecewaan, dan yang terakhir adanya kebencian.
dan semua rasa itu datang dengan rasa cinta. entah setelah semua itu pernah aku rasakan aku pun dapat menyebutnya demikian.
setelah aku merasakan cinta pertama, aku memang tak pernah menemukan cinta kedua, cinta ketiga, dan seterusnya. entah kenapa rasa cinta yang cukup dalam itu tidak bisa aku temukan lagi.
kejujuran hati saat tersakiti telah membungkam mulutku. aku tak dapat berkata banyak. sungguh aku pun merasa aku telah melakukan yang terbaik dan berusaha menjadi yang terbaik.
saat kekecewaan menghadang didepanku,, bahkan bukan hanya hatiku yang merasakan perihnya. mataku berbicara dengan tangisnya, dadaku berbicara dengan rasa sesaknya, dan otakku berbicara dengan logikanya.
saat fisik dan jiwa mengalami kekecewaan wajar pada saat itu yang dapat kusalahkan hanyalah diri sendiri. hal itu kulakukan hanya agar aku tak membenci orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar